Berbagai perusahaan yang bergerak di sektor perekonomian yang terkait dengan ekonomi digital diprediksi masih terus mendominasi penyerapan untuk properti di bidang perkantoran di wilayah Jakarta dan sekitarnya.

“Beberapa sektor industri yang menjadi penggerak penyerapan sepanjang tahun 2022 ini yaitu e-commercefintech, dan social media platform,” kata Senior Associate Director Research Colliers Indonesia Ferry Salanto di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Ferry mengemukakan bahwa perekonomian ekonomi yang stabil pada saat ini akan semakin mendorong permintaan ruang kantor termasuk untuk perusahaan di bidang ekonomi digital, dan tingkat hunian perkantoran juga diperkirakan bakal tumbuh seiring terbatasnya tambahan pasok pada periode 2023-2025.

Hal itu, ujar dia, karena pada kuartal I-2022 ini masih belum ada proyek gedung perkantoran baru yang diperkenalkan di Jakarta, sehingga gedung perkantoran baru yang ada masih berasal dari proyek yang saat ini sedang dalam masa konstruksi.

“Pengembang masih dalam posisi menunggu saat yang tepat untuk memperkenalkan proyek baru,” katanya dan menambahkan, tingkat hunian ruang kantor di daerah CBD (sentrabisnis) Jakarta adalah 75,3 persen, atau turun 3 persen q-o-q (antarkuartal).

Ia mengungkapkan, untuk mengejar dan mempertahankan tingkat hunian perkantoran, beberapa pengelola gedung memilih untuk menurunkan tarif sewa. Di CBD, tarif sewa gedung perkantoran pada saat ini turun 11 persen dibandingkan kuartal II-2020 atau awal masa pandemi di Indonesia.

Selain itu, Ferry berpendapat bahwa beroperasinya gedung kantor premium akan mempengaruhi perhitungan rata-rata tarif sewa, terutama di CBD.

“Namun karena masih besar ruang yang belum terserap, perbedaan antara penawaran hingga ke tarif transaksi masih relatif lebar,” papar Ferry.

Sebagaimana diwartakan, Menteri BUMN Erick Thohir memperkirakan potensi ekonomi digital Indonesia akan tumbuh 8 kali lebih cepat dibandingkan PDB.

“Mengenai potensi ekonomi digital Indonesia, ekonomi digital kita akan tumbuh 8 kali lebih cepat daripada pertumbuhan PDB kita,” ujar Erick Thohir dalam seminar daring Economic Outlook 2022 di Jakarta.
Besarnya potensi ekonomi digital Indonesia yang diperkirakan akan terus bertumbuh hingga Rp1.736 triliun pada 2025 atau tumbuh signifikan dibandingkan 2015 yang sebesar Rp112 triliun, 2019 yang sebesar Rp560 triliun, dan 2020 yang sebesar Rp616 triliun. Kontribusi terbesar ekonomi digital Indonesia datang dari sektor e-commerce, transportasi, dan makanan, travel daring, dan media daring.

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Mira Tayyiba mengatakan transformasi digital yang merata di semua wilayah Indonesia merupakan kunci dari pertumbuhan ekonomi digital nasional.

“Transformasi digital dan pemanfaatannya harus tersebar merata dan tidak terpusat di kota metropolitan saja. Kota tier 2 dan 3 menyimpan peluang besar dalam satu dekade ke depan,” kata Mira dalam konferensi pers daring, Senin (7/3).

“Kota-kota tier 2 dan 3 berkontribusi pada 46 persen total PDB Indonesia, dan diestimasikan akan meningkat 49-51 persen di 2030. Artinya, persentase kontribusi kota-kota ini akan mencakup hingga setengah dari PDB Indonesia,” imbuhnya.

Baca juga :  Platform Digital Jadi Katalisator UMKM untuk Ekspor