Ladies, disaat anak-anak sudah siap memiliki uang saku, yang memudahkan mereka untuk membeli makanan atau keperluan lainnya, ternyata juga memiliki manfaat edukatif untuk anak.Anak-anak bisa diberikan uang saku secara harian, mingguan, atau bulanan. Pilihan waktu-waktu tersebut disesuaikan dengan kesiapan anak untuk mengelola uangnya sendiri. Contohnya, Ladies tidak mungkin memberikan uang saku secara bulanan pada anak usia Sekolah Dasar (SD) karena mereka belum paham bagaimana mengelola uang dalam jumlah besar.

Pemberian uang saku disesuaikan dengan usia dan jenjang pendidikannya. Untuk anak usia SD, sebaiknya diberikan secara harian. Karena anak belajar memulai pengelolaan uang dalam jumlah kecil. Sebaiknya anak diajarkan untuk membagi berapa yang harus dibelanjakan dan berapa yang harus ditabung setiap harinya.Sedangkan untuk anak usia Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA), pemberian uang saku secara mingguan. Latihan ini menjadi tahap selanjutnya untuk anak-anak mengelola keuangannya. Apapun yang mereka lakukan dengan uangnya, harus cukup untuk jangka waktu seminggu dan harus ada yang disisihkan untuk ditabung.Ladies bisa mengajak anak untuk membuka rekening tabungan bank saat  usia SMA. Sehingga anak mulai belajar mengenai perbankan. Membuka rekening tabungan di bank untuk anak, memudahkan ladies untuk memberikan uang saku dengan menggunakan layanan transfer.

Baca juga :  Identifikasi Potensi Anak Melalui Platform Edukasi Digital

Bagi yang mempunyai putra putri di jenjang perguruan tinggi, mahasiswa, pemberian uang saku secara bulanan. Pada usia ini mereka sudah bisa menentukan prioritas kebutuhannya. Sehingga memberikan uang saku dalam jumlah yang lebih besar untuk jangka waktu yang lebih lama sudah pantas untuk dilakukan.

Pertimbangan berapa besar jumlah uang saku yang diberikan, disesuaikan kembali dengan usia dan jenjang pendidikkannya. Penting ladies pikirkan adalah biaya transportasi dan rata-rata kebutuhan hidup yang berlaku, yang berhubungan dengan harga barang-barang.Pada anak usia SD, ladies bisa memberikan uang saku dengan penambahan jumlah secara bertahap. Untuk anak kelas 1-3 SD, yang masih diantar jemput, tidak membutuhkan uang transport. Ladies bisa memberikan uang saku harian untuk jajan dan uang ditabung. Saat anak kelas 4-6 SD, ladies bisa menaikkan nominal uang sakunya. Di usia ini mereka sudah dapat menggunakan transportasi umum. Sudah bisa menentukan prioritas kebutuhannya, rata-rata anak SD di Indonesia uang sakunya adalah Rp.10.000,- per hari.

Baca juga :  Pengguna Gadget Habiskan 11.425 Jam Untuk WhatsApp

Untuk anak usia SMP dan SMA, ladies dapat menaikkan nominal uang saku. Pertimbangan untuk uang transportasi pulang dan pergi Rp. 7.000,- sampai Rp. 10.000,- per hari, tergantung jaraknya, dan untuk bekal uang jajannya Rp. 10.000,- sampai Rp. 15.000,- per hari. Jadi untuk anak usia SMP dan SMA, cukup dianggarkan Rp. 100.000,- sampai Rp. 150.000,- per minggu untuk uang saku mereka.

Saat anak sudah menjadi mahasiswa, tentunya kebutuhan mereka bertambah. Pada saat ini mereka harus belajar mengelola keuangan secara bulanan, oleh karena itu ladies bisa memberikan uang saku lebih pada mereka. Pemberian uang saku ini bisa berbeda antara mereka yang harus menyewa kamar atau kos. Jika biaya keperluan makan, minum dan transport, rata-rata Rp. 520.000,- per bulan, dan uang sewa kamar bisa berkisar Rp. 300.000,- sampai Rp.500.000,- perbulan. Jadi total ladies berikan uang saku sekitar Rp. 1.020.000,- per bulan. Pastikan ladies mendapatkan informasi mengenai rata-rata biaya hidup di tempat anak-anak menjalankan pendidikkannya.

Baca juga :  Kemerdekaan Mengatur Keuangan Kita

Walaupun ladies memberikan uang saku pada anak-anak, juga perlu diingat untuk membiasakan mereka untuk sarapan dan membawa bekal, selain hemat juga memperhatikan nutrisi makanan bagi kesehatan mereka. Dengan melatih anak-anak untuk belajar mengelola keuangan dengan benar, mereka bisa menghadapi masa depannya dengan lebih baik. jika mereka sudah memiliki penghasilannya sendiri, mereka lebih bijak dan mandiri.