Seduhan kopi hitam panas dan lezatnya pisang goreng terasa meringankan lelah badan yang telah menempuh perjalanan sejauh 33 km ke arah timur dari Kota Ende, ibu kota Kabupaten Ende, Flores, NTT. Capai perjalanan selama 40 menit itu terbayar lunas ketika melihat hamparan sawah bertingkat yang menyegarkan mata dari atas sebuah kafe berbahan alam di Desa Detusoko Barat.

Kafe Lepa Lio berada di pinggir jalan raya Trans Flores Ende-Maumere km 33. Lepa berasal dari Bahasa Lio yang berarti pondok, tempat beristirahat. Sedangkan Lio merupakan salah satu etnis yang ada di Kabupaten Ende.

Kafe Lepa Lio telah menjadi tempat beristirahat (rest area) bagi para pengguna jalan Trans Flores Ende-Maumere. Kafe itu menjadi salah satu unit usaha Remaja Mandiri Community (RMC), komunitas anak muda bentukan Nando Watu yang kini menjabat sebagai kepala desa. Kehadiran kafe itu bukan hanya sebagai tempat berbisnis, tapi ruang edukasi bagi anak muda bahwa kembali ke desa itu keren. Anak muda diminta untuk kembali ke kampung untuk mengembangkan potensi dan peluang yang ada.

Sebagai anak petani yang dibesarkan di desa namun mengeyam pendidikan di kota, pengalaman dan interaksi sosial bersama komunitas lokal dan internasional membentuk cara pandang Nando tentang pengembangan pariwisata. Desa itu merupakan salah satu desa penyangga kawasan Taman Nasional Kelimutu, sehingga Kafe Lepa Lio hadir untuk menangkap peluang kunjungan wisatawan.

Namun, tantangannya kini ialah transformasi pemahaman yang seringkali terkendala karena ketidakmampuan masyarakat dalam menerjemahkan ide pemimpin. Hal itu membuat masyarakat desa tidak mudah percaya pada konsep pengembangan pariwisata yang ditawarkan. Apalagi 95 persen warga desa menggantungkan hidup dari pertanian. Mereka menuntut adanya bukti nyata pariwisata dapat menjadi sektor pendukung ruh pertanian yang telah mereka geluti selama ini.

Pembenahan pariwisata desa pun dilakukan dengan menjadikan kafe sebagai salah satu prototipe wisata. Kehadiran kafe itu menjadi pemantik bagi warga lain untuk melakukan hal serupa; membangun kafe sebagai tempat beristirahat di sepanjang jalan Trans Flores Ende-Maumere itu. Penyajian menu lokal semakin memperkuat kepercayaan warga bahwa potensi pertanian dan perkebunan di desa bisa dimanfaatkan dengan baik untuk mendulang rupiah.

Pengembangan pariwisata

Detusoko Barat ditetapkan sebagai desa wisata pada tahun 2021 dan dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Dalam kelembagaan itu, ada Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) yang mengelola unit usaha pariwisata, termasuk anak muda RMC.

Desa itu hidup dari sektor pertanian dan kuat secara budaya. Mereka pun mengembangkan konsep ekowisata sebagai jualan pariwisata. Hal itu pula yang menjadi dasar bagi Detusoko Barat dalam memberikan pilihan paket wisata terhadap pengunjung.

Detusoko Barat menawarkan keindahan alam Flores lewat areal persawahan bertingkat yang dihiasi tanaman pertanian dan perkebunan. Desa menyajikan wisata agro seperti susur sawah, panen kopi Detusoko, wisata kuliner, wisata edukasi dan tarian adat, serta berbagai atraksi lain. Bahkan, ada beberapa tempat foto menarik bagi pengunjung, salah satunya jembatan Kali Loworia yang berwarna-warni tepat di tengah persawahan. Karena menjadi desa penyangga Taman Nasional Kelimutu, konsep pengembangan wisata Detusoko Barat tentunya berintegrasi dengan desa lainnya.

Tak sebatas memberikan paket wisata, mereka berinovasi dan menjadikan desa itu sebagai tempat belajar. Desa itu sering dikunjungi oleh orang-orang yang datang hanya untuk mengalami langsung tinggal di desa. Kehadiran orang luar itu tentunya menjadi momentum advokasi dan membangun kepercayaan masyarakat bahwa pariwisata memberikan peluang pengembangan desa ke depan.

Tantangan baru yang harus dihadapi ialah menjaga ritme pariwisata Detusoko Barat ini tetap berjalan. Pemerintah desa pun membuat strategi untuk memperkuat unit-unit kerja yang ada, salah satunya dengan memanfaatkan digitalisasi untuk memasarkan berbagai produk wisata. Dua platform yang kini dimiliki Detusoko Barat yakni decotour.bumdeswisata.id dan pasarflores.id.

Dalam platform decotour.bumdeswisata.id, Detusoko Barat menyajikan paket-paket wisata yang bisa menjadi pilihan pengunjung di tiga dusun, yakni Dusun Woloone, Dusun Pemonago, dan Dusun Nuagiu. Selain pilihan paket wisata di tiga dusun, laman itu juga menyediakan pilihan Detusoko Agrotour, Lepa Lio Kafe, Wisata Budaya, Detusoko TrekkingFarmer Field, Transportasi, dan School Field.

Berikutnya platform pasarflores.id dibuat untuk mengakomodir segala produk hasil bumi, baik dari Detusoko Ende maupun wilayah lain seperti Maumere-Sikka, Mbay-Nagekeo, dan Seba-Sabu Raijua. Beberapa produk yang disediakan antara lain produk olahan, sayur satuan, sayur paket, bumbu dapur, buah, beras, dan aksesoris.

Untuk memudahkan pembayaran, Detusoko Barat sudah mendukung transaksi non tunai melalui QR Code bekerja sama dengan Bank NTT. Namun, sayang sistem digitalisasi ini belum sepenuhnya bisa berfungsi di desa karena kurangnya sumber daya manusia yang berkomitmen mengelola platform sosial media. Apalagi, orang tua di desa belum melek teknologi. Guna mendukung itu, pemerintah desa menyiapkan ruang multimedia untuk menyiapkan anak muda desa terlibat dalam pengelolaan pemasaran digital.
Dukungan pemerintah

Agar tetap eksis, Detusoko Barat mengembangkan titik baru area wisata. Dalam konsep yang telah dirancang, pemerintah desa akan menata area pasar, lalu membangun penginapan, jembatan gantung, shelter, kafe tiga lantai, panggung hiburan, tenda camping, serta menata pemandian kolam air panas. Sementara itu sisi pinggir jalan negara akan dijadikan sebagai tempat beristirahat.

Pemerintah Kabupaten Ende menyambut baik rencana tersebut. Bahkan, Bupati Ende Achmad Djafar mendorong agar Detusoko Barat memiliki grand desain desa untuk pembangunan pariwisata. Dia ingin desa memetakan titik-titik wisata yang bisa menjadi jualan bagi pengunjung. Beberapa diantaranya yakni tempat beristirahat dengan banyak pilihan kuliner di sepanjang jalan Trans Flores itu. Lalu, ada kereta gantung yang nantinya menjadi daya tarik bagi warga yang melintasi jalan tersebut.

Jika grand desain itu kuat, pemerintah akan mendorong penganggaran bagi pembangunan daerah itu. Pemerintah pun siap membantu dan mendukung pengembangan pariwisata yang ada di wilayah tersebut.

Potensi pariwisata desa telah membawa Detusoko Barat meraih juara empat kategori desa berkembang dalam ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif beberapa waktu lalu. Tak hanya itu, Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) sendiri telah memasukkan Detusoko Barat sebagai bagian dari Peta Desa Wisata Tematik Floratama dan masuk ke dalam peta perjalanan (travel pattern) tematik Flores.

Detusoko Barat kini menjadi salah satu desa percontohan di Flores yang dijadikan inspirasi bagi desa wisata lainnya. Desa ini memiliki banyak keunggulan, termasuk produk kopi dan kuliner yang sudah siap diserap pasar Labuan Bajo. Oleh karena itu, BPOLBF dan Pemerintah Kabupaten Ende berkolaborasi untuk terus mengembangkan Detusoko Barat sebagai tempat belajar desa wisata. Kawasan ini pun akan menjadi tempat istirahat wisatawan sebelum ke Taman Nasional Kelimutu.

Dengan melihat potensi Detusoko Barat sebagai salah satu desa penyangga, BPOLBF mendorong pengembangan atraksi aktivitas desa, jalur sepeda, wisata sawah, jembatan gantung, dan kafe Lepa Lio yang berlatarkan sawah bertingkat. Selanjutnya, BPOLBF mendorong pengembangan penginapan dalam paket wisata sehingga wisatawan bisa tinggal lebih lama.

Gerakan Kembali ke Desa dengan semangat yang diusung yakni Ayo Pulang Kampung menjadi dasar bagi pengembangan Desa Wisata Detusoko Barat. Masyarakat khususnya anak muda harus berdaya dan mau kembali ke desa untuk mengembangkan semua potensi yang ada. Dengan potensi pariwisata dan kerja kolaborasi semua sektor, Detusoko Barat akan menjadi salah satu desa penyangga Taman Nasional Kelimutu dengan center based ekowisata yang bersaing dan berdaya guna.

Baca juga :  Ladies, Yuk Bersiap Tonton RWMF dan Borneo Jazz di Sarawak