Merawat Betawi yang Nyaris Pergi.

Anda tinggal di Jakarta? Pastinya Anda tahu kalau nenek moyang orang Jakarta adalah masyarakat Betawi. Tapi di mana menemukan komunitas mereka? Tahukah Anda di mana letak Pusat Budaya Betawi? Apa makanan dan kesenian khas mereka?

Perayaan Lebaran Betawi ke-10 baru saja usai kemarin Minggu, 30 Juli 2017. Acara yang menyedot perhatian sebagian masyarakat Jakarta sampai membuat macet daerah Jagakarsa-Lenteng Agung ini, merupakan momen penting untuk melestarikan budaya Betawi yang nyaris punah.

Merawat Betawi yang Nyaris Pergi

Presiden Jokowi Menghadiri Lebaran Betawi ke-10, 30 Juli 2017 (Foto : megapolitan. kompas. com)

Ya, meskipun merupakan penduduk asli Jakarta, Betawi sudah tergeser ke pinggiran, bahkan keluar kota Jakarta. Orang pun hampir melupakan kebudayaan khas masyarakat yang telah mendiami Jakarta sejak 400-an tahun silam ini.

Baca juga :  Gerakan Tertib Trotoar Bikin Jalan-jalan Makin Nyaman

Pada awalnya, cagar budaya Betawi ditetapkan Gubernur Ali Sadikin di Condet, pada tahun 1974. Wilayah di bilangan Jakarta Timur ini dinobatkan pula sebagai cagar buah, karena di sanan tumbuh berbagai macam tanaman buah.

Setelah Gubernur Ali lengser, Jakarta mengalami modernisasi yang pesat. Seiring dengan pergeseran ekonomi, sosial dan budaya masyarakat Jakarta, Condet pun mengalami banyak perubahan. Lingkungan yang tadinya asri, banyak pepohonan, dengan sungai Ciliwung yang mengalir jernih, berubah menjadi padat penduduk, penuh bangunan dan ramai oleh kendaraan bermotor.

Masyarakat Betawi yang tinggal di sekitar Condet dan Kramatjati kembali tergusur ke wilayah sub urban. Lahan perkebunan seperti duku dan salak condet yang terkenal pun lenyap.

Baca juga :  Pengalaman Baru : Menyelam Bersama Hiu di Mall Jakarta

Di era Gubernur Sutiyoso, masyarakat Betawi kembali mendapat perhatian. Perkampungan Budaya Betawi (PBB) kemudian direlokasi ke Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Festival Setu Babakan diselenggarakan pada 13 September 1997 sebagai cikal bakalnya.

Srengseng Sawah terpilih sebagai PBB antara lain karena dianggap lingkungannya masih sesuai dengan karakter kehidupan masyarakat Betawi, keaslian adat maupun tradisi Betawi.

Di atas tanah seluas 289 hektar, semua bangunan yang ada di kawasan PBB tersebut ditetapkan harus bercorak Betawi. PBB diresmikan pada 18 Agustus 2000 melalui Surat Keputusan Gubernur DKI nomor 92 tahun 2000.

Perahu Naga Di Tengah Setu Babakan Yang Asri (Foto: Instagram/@luffyluvs)

Merawat dan menjaga kearifan lokal budaya merupakan hal yang sangat penting. Demikian pesan Presiden Jokowi saat menghadiri Lebaran Betawi Minggu kemarin. Oleh karena itu, ia telah menginisiasi pembangunan Pusat Budaya Betawi di Setu Babakan, saat masih menjabat sebagai gubernur DKI, sebagai salah satu cara untuk melestarikan budaya Betawi.

Baca juga :  Ladies, Ada Pizza Kekinian!

Kini Setu Babakan menjadi salah satu destinasi wisata edukasi. Di sana Anda dapat mencicipi bir pletok, dodol betawi dan makanan khas lainnya, sambil menikmati semilir angin di tepi danau nan asri atau naik perahu naga yang seru. Ajak pula anak-anak Anda untuk mengenal budaya Betawi di Museum Betawi yang berdiri di tepi danau.

Museum Betawi (Foto : jawapos.com)